Assalamualaikum Wr. Wb. Selamat datang di blog "بسم الله" Terima kasih Ya Allah atas rizki yang telah Engkau berikan.

Minggu, 29 Januari 2012

karya ilmiah - pestisida kulit bawang merah


BAB 1
PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang
Tidak menutup kemungkinan apabila tumbuhan setiap harinya dihinggapi oleh berbagai jenis hama, ulat maupun serangga. Apalagi selama ini, petani Indonesia telah beberapa kali mengalami kerugian karena rusaknya hasil panen mereka akibat hama. Tapi, mereka lebih memilih jalan lain dengan menyemprotkan tanaman mereka dengan pestisida berbahan kimia. Menurut mereka pestisida berbahan kimia lebih efektif dalam membasmi hama pada tanaman. Namun mereka tidak mengetahui adanya dampak negatif  bagi tumbuhan yang mereka tanam.
Penggunaan pestisida, khususnya pestisida sintetis atau kimia memang memberikan keuntungan secara ekonomis, namun memberikan kerugian negatif diantaranya : residu yang tertinggal tidak hanya pada tanaman, tetapi juga air, tanah, dan udara. Penggunaan pestisida sintetis secara terus-menerus akan mengakibatkan efek resistensi dan resurjensi  berbagai jenis hama. Akhirnya, kualitas pangan yang dihasilkan menurun. Pangan yang seharusnya berkualitas dan bernutrisi tinggi, menjadi racun karena tercemar dengan pestisida kimia. Yang mengakibatkan berbahaya bagi siapapun yang mengonsumsinya.
Maka dari itu, penulis memberikan inovasi baru terkait penggunaan pestisida yang aman dan mudah didapatkan yaitu, dengan memanfaatkan kulit bawang merah sebagai alternatif pestisida alami atau organik pada hama tanaman.            Berdasarkan data di atas penulis tertarik melakukan penelitian mengenai “Kulit Bawang Merah Sebagai Pestisida Alami Hama Ulat” sebagai judul karya ilmiah penulis, guna meningkatkat kualitas hasil pangan yang dihasilkan.


B.                 Identifikasi Masalah
1.      Apakah kulit bawang merah bisa menjadi pestisida alami?
2.      Sejak kapan kulit bawang merah di manfaatkan oleh masyarakat ?
3.      Bagaimana kulit bawang merah bisa menjadi pestisida alami?
4.      Apa fungsi kulit bawang merah pada tanaman?
5.      Dampak apa yang ditimbulkan ketika menggunakan pestisida kulit bawang merah?
6.      Apa yang menyebabkan petani lebih memilih menggunakan pestisida berbahan kimia melainkan dengan pestisida alami?
7.      Apa pengaruh kulit bawang merah terhadap makanan?
                                                                                     
C.                Rumusan Masalah
1.      Bagaimana kulit bawang merah bisa menjadi pestisida alami?
2.      Dampak apa yang timbul ketika menggunakan pestisida kulit bawang merah?

D.                Tujuan Penelitian
1.      Mengetahui racikan kulit bawang merah yang tepat untuk dijadikan pestisida alami.
2.      Mengetahui dampak setelah menggunakan pestisida kulit bawang merah.

E.                 Manfaat Penelitian
1.      Bagi penulis, penelitian ini dapat menambah wawasan tentang kandungan yang   terdapat pada kulit bawang merah yang berpotensi dapat membunuh hama ulat.
2.      Bagi kalangan akademis, dapat menambah referensi tentang ilmu pengetahuan mengenai penggunaan pestisida alami menggunakan kulit bawang merah.
3.      Bagi masyarakat, hasil penelitian ini dapat diaplikasikan dengan menyemprotkan tanaman dengan ekstrak kulit bawang merah.
4.      Bagi pemerintah Kota Bogor, dapat dijadikan sebagai masukan guna meningkatkan kualitas hasil pangan masyarakat melalui penyemprotan tanaman menggunakan ekstrak kulit bawang merah untuk mewujudkan Bogor sebagai Kota penghasil pangan yang berkualitas. 

F.                 Tinjauan Pustaka
Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan dari penelitian Dr. Othmar Zeidler. Tentang : Definisi, pembuatan pestisida dari golongan hidrokarbon seperti DDT (Dichloro Diphenyl Trichloroethane), endrin (cairan yang biasa dipakai sebagai racun pembunuh tikus), aldrin (banyak digunakan sebagai pestisida untuk membersihkan benih tanaman), dieldrin (hidrokarbon diklorinasi), heptaklor (senyawa organoklorin yang digunakan sebagai insektisida), dan gamma BHC. Penulis melengkapi dengan penelitian pestisida alami menggunakan kulit bawang merah terhadap hama ulat.

1)      Kulit Bawang Merah
Dalam klasifikasi ilmiah botani, bawang merah termasuk ordo aspalagales, family aliaceae, genus allium, dan spesies A. ascalonicum. Tetapi, dalam penelitian ini yang digunakan bukan bawang merah, melainkan bagian terluar dari bawang merah yaitu kulit bawang merah.
Kulit bawang merah adalah bagian terluar dari bawang merah yang diambil dagingnya (Admin 2010). Biasanya, kulit bawang merah tidak pernah dimanfaatkan, melainkan langsung dibuang setelah didapatkan isinya. Kulit bawang merah ini sangat berguna sekali, terutama untuk makanan. Paling sering kulit bawang merah digunakan untuk membuat telur pindang. Selain digunakan sebagai penyedap makanan, kulit bawang merah juga mengandung zat dan senyawa yang berpotensi dapat membunuh hama ulat (Fatmah 2005).

2)      Pestisida
Pestisida dapat berperan sebagai substansi kimia dan bahan lain yang mengatur atau menstimulir pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian tanaman.
Dalam  pengendalian hama tanaman secara terpadu, pestisida adalah sebagai alternatif pestisida. Belajar dari pengalaman, pemerintah saat ini tidak lagi memberi subsidi terhadap pestisida. Namun, kenyataannya di lapangan petani masih banyak yang menggunakannya.  Menyikapi hal ini, yang terpenting adalah baik pemerintah maupun swasta terus menerus memberi penyuluhan tentang bagaimana penggunaan pestisida secara aman dan benar.  Aman terhadap diri dan lingkungan, benar dalam arti lima tepat adalah tepat jenis pestisida, tepat cara aplikasi, tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat takaran (Mulsa Plaktis).
Pestisida tidak hanya berperan dalam mengendalikan jasad-jasad pengganggu dalam bidang pertanian saja, namun juga diperlukan dalam bidang kehutanan terutama untuk pengawetan kayu dan hasil hutan yang lainnya, dalam bidang kesehatan dan rumah tangga untuk mengendalikan vektor (penular) penyakit manusia dan binatang pengganggu kenyamanan lingkungan, dalam bidang perumahan terutama untuk pengendalian rayap atau gangguan serangga yang lain (Mulsa Plaktis).
Pestisida dibagi menjadi dua, yaitu pestisida sintetis atau kimia dan pestisida organik atau alami (Pengendalian Hama Terpadu). Sekilas pandang, pestisida kimia dengan pestisida alami sama saja. Namun ada beberapa faktor yang menyebabkan kedua jenis pestisida tersebut dibedakan. Pestisida berbahan kimia memberikan resiko  yang serius dengan terancamnya kesehatan populasi organisme (burung, amfibi, reptil, dan lain-lain) akibat dari penggunaan pestisida berbahan kimia (Dido Zulkarnaen 2010).
Bahan aktif yang terkandung dalam pestisida berbahan kimia tidak menutup  kemungkin akan menjadi racun bagi siapa saja yang mengonsumai hasil pertanian, bukan hanya itu, lingkungan akan menjadi sasaran utama atas penggunaan bahan berbahaya ini. Sehingga, tidak hanya hasil panen yang tercemar, melainkan meliputi udara dan efek negatif terhadap tumbuhan itu sendiri. Bahan-bahan yang secara umum yang sering digunakan oleh masyartakat dalam penggunaan pestisida berbahan kimia adalah : DDT (Dichloro Diphenyl Trichloroethane), endrin (cairan yang biasa dipakai sebagai racun pembunuh tikus), lindane, dan endosulfan (Deris Aditya 2010).
Pestisida alami jelas berbeda dengan pestisida kimia, walaupun tujuan keduanya sama yaitu memberantas hama ulat yang hinggap pada tumbuhan. Beberpa keuntungan dalam penggunaan pestisida alami (organik) yaitu : zat dan senyawa yang terdapat pada pestisida berbahan alami dapat menolak kehadiran hama ulat dengan bau yang tidak disukainya, dapat merusak perkembangan telur, larva, dan pupa pada hama serangga, menghambat reproduksi serangga betina, menghancurkan hormon di dalam tubuh hama serangga, dan lain-lain (Organisasi Jaringan Tani Boyolali).
Beberapa bahan dari tumbuhan yang dapat digunakan sebagai pestisida alami adalah : Daun papaya (mengandung zat aktif “papain”), biji jarak (mengandung senyawa reisin dan alkaolit), daun sirsak (mengandung senyawa annonain dan resin), rimpang jeringau (mengandung senyawa Arosone, Kalomenol, Kalomen, Kalomeone, Metil eugenol, Eugenol), pacar cina (mengandung senyawa minyak atsiri, alkaloid, saponin, flavonoin, dan tannin), dan lain-lain (Andri 2010).

3)      Kerusakan Tumbuhan
Tanaman itu bagaikan manusia, ia bisa hidup sehat atau subur, bisa juga sakit akibat terserang penyakit yang mengakibatkan berkurangnya kesuburan pada tanaman. Banyak sekali penyakit yang dapat menyerag  tanaman. Salah satunya adalah ulat. Ulat merupakan bagian dari biang keladi perusak tanaman. Kehadiran ulat dan teman-temannya memang membawa kerisauan sendiri bagi pemilik tanaman jenis hortikultura (budidaya tanaman kebun). Mahkluk kecil pengacau ini bisa merusak tampilan dan kesehatan tanaman, sehingga tidak sedikit yang menggunakan alternatif semprotan racun pestisida untuk melindungi tanaman dari jangkauan hama, penyakit, dan binatang.
Beberapa Kerusakan fisik yang terjadi pada tumbuhan adalah daun-daun dipenuhi oleh banyak lubang berbekas, pertumbuhan tanaman menjadi terganggu (hal ini dapat terjadi dikarenakan hama serangga dapat meyebabkan pertumbuh tanaman menjadi terhambat dan bahkan tidak jarang mengalami stagnan pertumbuhan atau kerdil. Seperti serangan hama wereng pada tanaman padi yang dapat mengakibatkan tanaman padi menjadi kerdil dan tidak dapat berproduksi), menurunnya jumlah produksi tanaman (Dengan serangan yang dilakukan oleh hama pada tanaman maka tanaman tidak akan mampu menghasilkan produksi secara maksimal karena terjadinya pembatasan pertumbuhan akibat hama yang berada pada tanaman budidaya. Hal ini disebabkan karena proses fisiologi tanaman yang terganggu. Dengan daun dan batang serta tunas-tunas muda yang habis dimakan oleh hama secara tidak langsung tanaman tidak dapat melaukan proses fotosintesis untuk menghasilkan produksi dengan baik bahkan tidak dapat melakukan fotosentesis) Nurwansyah (2010).

4)      Penanggulangan Hama
Tanaman merupakan mahluk hidup yang mudah sekali dihinggapi oleh berbagai macam hama. Itu semua tidak menutup kemungkinan apabila setiap harinya tanaman dihinggapi oleh hama serangga. Benih local dapat dijadikan sebagai penanggulangan hama serangga. Benih lokal merupakan benih yang telah teruji melalui proses penyeleksian secara alami dalam pertumbuhannya.  Sehingga memiliki kemampuan  daya tahan tersendiri dalam penyesuaian terhadap iklim di daerah tersebut. Hal ini dimaksudkan bahwa tingkat daya tahan dan kekebalan benih non hibrida (local) terhadap serangan hama sangat berbeda jauh jika dibandingkan dengan benih hibrida (Asep 2007).
Mia (1999) menggunakan cara menanam tanaman tidak dengan cara monokulture (satu jenis tanaman). Dengan cara menanam tanaman secara berpasangan atau campuran dapat membuat konsentrasi hama terganggu. Sehingga sukar mengidentifikasi aroma tanaman yang disenangi hama pada saat tanaman sedang berbunga. Disamping itu juga kita akan mendapatkan keanekaragaman hasil panen.  
Kepala Puslitbang Perhutani Cepu (2010) menggunakan minyak biji mimba sebagai penanggulangan hama serangga. Biji mimba sebanyak 50 kg ditumbuk halus kemudian dilarutkan ke dalam 10 cc alkohol dan diaduk. Larutan ini selanjutnya diencerkan dengan 1 liter air lalu diendapkan semalam. Keesokan harinya larutan disaring dengan kain halus. Ramuan ini dapat mengendalikan serangan hama wereng coklat, penggerek batang dan hama yang mengganggu tanaman semusim. Hama akan mati dalam jangka waktu 2 sampai 3 hari setelah penyemprotan dilakukan. 
 
G.          Metodologi Penelitian
 Penelitian ini kami lakukan dengan cara studi pustaka dan melakukan eksperimen.

H.          Sistematika Penulisan
Karya tulis ini terdiri dari Bab 1 Pendahuluan : Latar belakang, Identifikasi Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Tinjauan Pustaka, Metodologi Penelitian, dan Sistematika penulisan. Bab 2 Pembahasan : Kulit Bawang Merah Sebagai Pestisida Alami, Metodologi Pelaksanaan, Pembuatan Ekstrak Kulit Bawang Merah, Penyemprotan Hama Ulat, Dampak Pestisida Kulit Bawang Merah, dan Bab 3 Penutup : Kesimpulan dan Saran.



BAB 2
PEMBAHASAN

A.          Kulit Bawang Merah Sebagai Insektisida Alami
Salah satu tanaman yang dapat dijadikan sebagai pestisida nabati yaitu, bawang merah yang diambil kulitnya. Kulit bawang merah adalah bagian terluar atau pembalut dari daging bawang merah yang berpotensi dapat membunuh hama serangga pada tanaman, kulit bawang merah mengandung senyawa acetogenin. Pada konsentrasi tinggi, senyawa tersebut memiliki keistimewaan sebagai anti-feeden. Dalam hal ini, hama serangga tidak lagi bergairah dan menurunnya nafsu makan yang mengakibatkan hama serangga enggan untuk melahap bagian tanaman yang disukainya. Sedangkan dalam konsentrasi rendah, bersifat racun perut yang bisa mengakibatkan hama serangga menemui ajalnya. Hama serangga mengonsumsi daun yang mengandung senyawa   acetogenin konsentrasi rendah, akan menyebabkan terganggunya  proses pencernaan dan merusak organ-organ pencernaan, yang  mengakibatkan kematian pada hama serangga (Plantus 2008).
Selain mengandung anti-fedeen, kulit bawang merah juga mengandung senyawa squamosin. Kandungan pada squamosin  mampu menghambat transport elektron pada sistem respirasi sel hama serangga, yang menyebabkan hama serangga tidak dapat menerima nutrisi makanan yang dibutuhkan oleh tubuhnya. Sehingga, walaupun hama serangga memakan daun yang telah tercemar oleh zat squamosin, hama serangga sama saja seperti tidak memakan apapun, karena nutrisi yang terkandung dalam daun yang dimakan hama serangga tidak dapat tersalurkan  keseluruh tubuhnya. Akhirnya, hama serangga akan mati secara perlahan.
 Selain berpotensi dapat membunuh hama ulat, kulit bawang merah juga memiliki beberapa manfaat lainnya yang menguntungkan. Zat dan senyawa yang terdapat pada kulit bawang merah dapat memberikan kesuburan bagi tanaman sehingga dapat mempercepat tumbuhnya buah dan bunga pada tumbuhan (Rizal 2008).

C.                 Metodologi Pelaksanaan
Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap. Pada tahap pertama dilakukan pembuatan pestisida alami menggunakan kulit bawang merah. Pada tahap kedua dilakukan uji coba terhadap hama ulat. Tujuan tahap kedua adalah untuk mengetahui apakah ulat dapat mati dengan diberikan pestisida alami menggunakan kulit bawang merah dan untuk mengetahui waktu kematian pada setiap hama ulat. Setelah itu, penelitian dilanjutkan dengan tahap ketiga. Tahap ketiga, dilakukan dengan pengamatan. Tujuan tahap ketiga adalah apakah ada atau tidak dampak setelah menggunakan pestisida alami menggunakan kulit bawang merah. Tahapan penelitian ini disajikan dalam tabel 1.
Tabel 1. Tahapan Penelitian

NNo
                                  Tabel Tahap Penelitian
11.
Tahap pertama : Pembuatan ekstrak kulit bawang merah
Terdiri dalam 7 buah botol spray steril : Botol 1(4 lembar kulit bawang merah direbus), Botol 2(7 lembar kulit bawang merah direbus), Botol 3(10 lembar kulit bawang merah direbus). 3 botol lainnya yang berisi jumlah kulit bawang merah yang sama, hanya kulit bawang merah yang ada di dalamnya direndam. 1 botol terakhir berisi 1 jenis pestisida kimia.

22.
Tahap kedua : Penyemprotan terhadap hama ulat dan mengamati selama ± 4 jam.
Pengujian efektifitas setiap ekstrak kulit bawang merah.
33.
Tahap ketiga : Mengamati efektifitas kulit bawang merah.
Dampak pestisida kulit bawang merah.


1)      Waktu, Tempat, dan Keterangan Penelitian
Penelitian dilakukan pada pukul 17.00 WIB dan berakhir pada pukul 21.00 WIB. Hal ini dapat disimpulkan, penelitian dilakukan ± selama 4 jam, yang bertempat di halaman rumah di perumahan Villa Bogor Indah. Selama proses penelitian, dilakukan pencatatan suhu rata-rata kondisi ruangan penelitian yaitu ± 31.4°C.

2)    Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan adalah panci, toples, kompor, botol spary steril (Gambar 1), tanaman atau ekosistem (Gambar 2), komputer dengan koneksi internet, printer, dan alat tulis. Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah kulit bawang merah (Gambar 3) dan air.


Gambar 1. Alat-alat untuk melakukan pengamatan (penelitian) : (1) panci, (2) kompor, (3) toples, dan (4) botol sprey steril.

Gambar 2. Ekosistem yang digunakan sebagai media percobaan







                                                 Gambar 3. Kulit bawang merah

D.                Pembuatan Ekstrak Kulit Bawang Merah
Dalam penelitian ini, ekstrak kulit bawang merah dibuat menggunakan kulit bawang merah yang telah dikeringkan (untuk mengurangi kadar air). Pembuatan ekstrak kulit bawang merah dilakukan dengan cara perebusan dan perendaman.
Warna coklat yang dihasilkan dari ekstrak kulit bawang merah berasal dari senyawa flangfolikosida, senyawa ini sangat ampuh dalam membunuh bakteri (Anne Ahira 2010). Hal ini menunjukan, semakin banyak kulit bawang merah yang digunakan, semakin lama waktu perendaman dan perebusan. Akan menghasilkan banyak pula senyawa flangfolikosida yang dapat diekstrak. Sebaliknya, semakin sedikit kulit bawang merah yang digunakan, semakin singkat waktu perendaman dan perebusan. Maka ekstrak kulit bawang merah yang diperoleh kurang berwarna coklat dan aroma bawang merah tidak kuat. Pada tabel 2 disajikan, parameter perlakuan dari setiap ekstrak kulit bawang merah P1-P6 dan pestisida pembanding P7.
  
Tabel 2. Parameter Perlakuan

  Pestisida
   Rebusan
   Rendaman
Kimia (pembanding)
P1
Kulit bawang merah sebanyak 4 lembar dan direbus selama 2 menit.
P4
Kulit bawang merah sebanyak 4 lembar dan direndam selama 1 hari.






P7
Terbuat dari bahan aktif rizotin.
P2
Kulit bawang merah sebanyak 7 lembar dan direbus selama 2 menit.
P5
Kulit bawang merah sebanyak 7 lembar dan direndam selama 2 hari.
P3
Kulit bawang merah sebanyak 10 lembar dan direbus selama 2 menit.
P6
Kulit bawang merah sebanyak 10 lembar dan direndam selama 3 hari.


Ekstrak kulit bawang merah direbus dalam air sebanyak 200 ml. Ekstrak kulit bawang merah P1, warnanya tidak terlalu coklat dan aroma bawang merahnya tidak kuat. Ekstrak kulit bawang merah P2, warna coklatnya sudah mulai tebal dibandingkan dengan ekstrak kulit bawang merah P1, dan aroma kulit bawang merahnya sudah mulai kuat. Ekstrak kulit bawang merah P3, warna coklatnya sangat tebal dan aroma bawang merahnya sangat tajam dibandingkan dengan ekstrak kulit bawang merah P1 dan ekstrak kulit bawang merah P2. Hal ini menunjukan, semakin banyak kulit bawang merah yang digunakan dalam perebusan, akan mengasilkan ekstrak kulit bawang merah yang semakin coklat dan aromanya semakin kuat (Gambar 4).
Ekstrak kulit bawang merah direndam dalam air sebanyak 200 ml. Ekstrak kulit bawang merah P4, warna coklatnya tebal dan aroma bawang merahnya kuat. Ekstrak kulit bawang merah P5, warna coklatnya sangat tebal dan aroma bawang merahnya sangat kuat. Ekstrak kulit bawang merah P6, warna coklatnya sangat tebal dan aroma bawang merahnya sangat tajam. Hal ini menunjukan, semakin banyak kulit bawang merah yang digunakan dan semakin lama perendaman, akan menghasilkan ekstrak kulit bawang merah yang semakin coklat dan aroma bawang merahnya semakin tajam (Gambar 5). Sebagai Pembanding, dibuat pestisida berbahan dasar kimia P7 yang terbuat dari bahan aktif rizotin, senyawa ini adalah racun kontak dan lambung berbentuk pekatan yang dapat dimulsikan berwarna kuning, untuk mengendalikan hama perusak daun (Gambar 6).



Gambar 4. Ekstrak kulit bawang merah hasil rebusan (perlakuan 1, perlakuan 2, dan perlakuan 3)



Gambar 5. Ekstrak kulit bawang merah hasil rendaman (perlakuan 4, perlakuan 5, dan perlakuan 6)

Gambar 6. Pestisida berbahan dasar kimia (pembanding)

E.                 Penyemprotan Hama Ulat
Penyemprotan hama ulat dilakukan dalam 6 ekstrak pestisida alami yang diperoleh dari perebusan dan perendaman kulit bawang merah sebanyak 4 lembar, 7 lembar dan 10 lembar. Sebagai pembanding, hama ulat disemprot oleh pestisida berbahan dasar kimia (Gambar 7). Penyemprotan hama ulat diamati selama ± 4 jam. Selama proses penyemprotan dilakukan pengamatan setiap 20 menit, pengamatan ini berguna untuk mengetahui pada menit berapakah ulat tersebut dapat mati dengan disemprotkan 3 ekstrak kulit bawang merah hasil rebusan P1-P3 (Gambar 8), 3 ekstrak kulit bawang merah hasil rendaman P4-P6 (Gambar 9). Pada akhir penyemprotan dilakukan pemeriksaan, pemeriksaan ini berguna untuk mengetahui apakah hama ulat benar-benar mati atau tertidur.


Gambar 7. Ulat yang disemprotkan oleh pestisida kimia (P7)

Gambar 8. Ulat yang disemprotkan oleh insektisida kulit bawang merah (P1, P2, dan P3)

Gambar 9. Ulat yang disemprotkan oleh insektisida kulit bawang merah (P4, P5, dan P6)

Pada tabel 3 disajikan ulat yang telah mati dalam waktu pengamatan selama ± selama 4 jam. Ulat yang disemprotkan oleh ekstrak kulit bawang merah berkomposisi sedikit dan lama perebusan yang sebentar (P1) membutuhkan waktu yang sangat lama dalam proses pembunuhan hama ulat, dibandingkan dengan ulat yang disemprotkan oleh ekstrak kulit bawang merah P2 dan P3. Sedangkan, ulat yang disemprotkan oleh ekstrak kulit bawang merah berkomposisi sedikit dan lama perendaman selama 1 hari (P4) membutuhkan waktu yang lama dalam membunuh hama ulat, dibandingkan dengan ulat yang disemprotkan oleh ekstrak kulit bawang merah P5 dan P6. Sebagai pembanding, hama ulat yang disemprotkan oleh ekstrak kulit bawang merah P7.

                       Tabel 3. Waktu kematian pada hama ulat
Waktu
P1
P2
P3
P4
P5
P6
P7
20 menit ke-1
H

H
H
H
H
H
M
20 menit ke-2
H
H
H
H
H
M
M
20 menit ke-3
H
H
M
H
H
M
M
20 menit ke-4
H
H
M
H
H
M
M
20 menit ke-5
H
H
M
H
H
M
M
20 menit ke-6
H
H
M
H
H
M
M
20 menit ke-7
H
H
M
H
H
M
M
20 menit ke-8
H
H
M
H
H
M
M
20 menit ke-9
H
H
M
H
H
M
M
20 menit ke-10
H
H
M
H
H
M
M
20 menit ke-11
H
M
M
H
M
M
M
20 menit ke-12
M
M
M
M
M
M
M
                             Keterangan : H = Hidup, M = Mati

Pada grafik 1 disajikan lama waktu yang dibutuhkan dalam membunuh hama ulat yang disemprotkan oleh ekstrak kulit bawang merah P1-P6, dan pestisida pembanding berbahan dasar kimia P7.
Grafik 1. Kurun Waktu Kematian Hama Ulat

Ulat yang disemprot dengan ekstrak kulit bawang merah P1, membutuhkan waktu ± selama 245 menit untuk membuat hama ulat mati. Hal ini menunjukan, semakin sedikit kulit bawang merah yang digunakan dalam perebusan, akan menghasilkan sedikit senyawa acetogenin dan squamosin yang dapat diekstrak. Sehingga, ekstrak kulit bawang merah P1 membutuhkan waktu yang sangat lama untuk membunuh hama ulat. Sedangkan, ulat yang disemprotkan dengan ekstrak kulit bawang merah P2, membutuhkan waktu ± selama 220 menit untuk membuat hama ulat mati. Hal ini menunjukan, semakin bertambah jumlah kulit bawang merah yang digunaka dalam perebusan, akan menghasilkan bertambahnya senyawa acetogenin dan squamosin yang dapat diekstrak. Sehingga ekstrak kulit bawang merah P2 membutuhkan waktu agak lama dalam membunuh hama ulat.
Yang terakhir, ulat yang disemprotkan dengan pestisida P3, membutuhkan waktu ± selama 50 menit untuk membuat hama ulat mati. Hal ini menunjukan, semakin banyak kulit bawang merah yang digunakan dalam perebusan, akan menghasilkan banyak senyawa acetogenin dan squamosin yang dapat diekstrak. Sehingga, ekstrak kulit bawang merah P3 membutuhkan waktu yang singkat dalam membunuh hama ulat.
Ulat yang disemprot dengan ekstrak kulit bawang merah P4, membutuhkan waktu ± selama 230 menit untuk membuat hama ulat mati. Hal ini menunjukan, semakin sedikit kulit bawang merah yang digunakan dan waktu perendaman dalam tempo yang singkat akan menghasilkan sedikit senyawa acetogenin dan squamosin yang dapat diekstrak. Sehingga, ekstrak kulit bawang merah P4 membutuhkan waktu yang sangat lama untuk membunuh hama ulat.
Sedangkan, ulat yang disemprot dengan ekstrak kulit bawang merah P5, membutuhkan waktu ± selama 210 menit untuk membuat hama ulat mati. Hal ini menunjukan, semakin bertambah kulit bawang merah yang digunakan dan tempo perendaman yang bertambah, akan menghasilkan bertambahnya  senyawa acetogenin dan squamosin yang dapat diekstrak. Sehingga, ekstrak kulit bawang merah P5 membutuhkan waktu lebih cepat untuk membunuh hama ulat dibandingkan dengan ulat yang disemprotkan oleh ekstrak kulit bawang merah P4. Ulat yang disemprot dengan ekstrak kulit bawang merah P6, membutuhkan waktu ± selama 30 menit untuk membuat hama ulat mati. Hal ini menunjukan, semakin banyak kulit bawang merah yang digunakan dan tempo perendaman yang semakin lama, akan menghasilkan banyak senyawa acetogenin dan squamosin yang dapat diekstrak. Sehingga, ekstrak kulit bawang merah P6 membutuhkan waktu yang lebih singkat untuk membunuh hama ulat, dibandingkan dengan ulat yang disemprotkan oleh ekstrak kulit bawang merah P1-P5. Ulat pembanding yang disemprotkan dengan pestisida berbahan dasar kimia (rizotin) membutuhkan waktu yang sangat singkat untuk membunuh hama ulat yaitu ± selama 9 menit.

F.                 Dampak Pestisida Kulit Bawang Merah
Setelah diamati beberapa kali, ternyata ekstrak kulit bawang merah tidak mempunyai dampak negatif terhadap tumbuhan yang disemprotkan dan ekosistem sekitar. Hasil pengamatan menunjukan, ekstrak kulit bawang merah membuat daun pada tumbuhan menjadi tampak lebih segar.
BAB 3
PENUTUP
A.                Kesimpulan
Kulit bawang merah dapat dijadikan sebagai pestisida alami dengan cara mengambil ekstraknya. Takaran yang tepat dalam pembuatan ekstrak kulit bawang merah adalah sebanyak 10 lembar (P6) dan direndam selama 3 hari. Ekstrak kulit bawang merah P6 membutuhkan waktu ± selama 30 menit.
Ternyata ekstrak kulit bawang merah tidak memberikan efek negatif pada tumbuhan itu sendiri dan ekosistem sekitar. Hasil pengamatan menunjukan, ekstrak kulit bawang merah membuat daun pada tumbuhan menjadi tampak lebih segar dibandingkan daun yang disemprotkan dengan pestisida berbahan kimia.

B.                 Saran
Hasil penelitian ini dapat diaplikasikan oleh para petani dengan catatan sebagai berikut : kulit bawang yang digunakan untuk pembuatan ekstrak harus kering (tidak basah atau lembab), untuk mengurangi kadar air. Perendamn kulit bawang merah tidak boleh lebih dari 3 hari, karena aroma yang akan dihasilkan seperti aroma busuk, hal ini menunjukan, kulit bawang merah yang direndam telah ditumbuhi oleh bakteri mikroba.
Penelitian ini dapat dilanjutkan dengan menambahkan parameter perlakuan sebagai berikut : penulis selanjutnya dapat mendefinisikan dampak penggunaan pestisida kulit bawang merah secara lengkap berdasarkan hasil uji lab dan dapat menambah indikator hama serangga yang digunakan

   


DAFTAR PUSTAKA

Afriyanto, “Kajian Keracunan Pestisida Pada Petani Penyemprot Cabe Di Desa Candi Kecamatan Bandung Kabupaten Semarang : Thesis, untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana S-2”, Universitas Diponegoro Semarang, 2008.  
anekaplanta.wordpress.com/2008/03/02/atasi-hama-ulat-secara-organik/
anneahira.com/kandungan-kulit-bawang-merah.htm
Djafarudin, Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman, Jakarta : Bumi Aksara, 2007.  
erwindoni.blogdetik.com/2010/07/11/kandungan-dan-manfaat-bawang-merah/
iceday.co.cc/2010/08/19/buat-insektisida-alami/
Ir. Moerhar Daniel, M.s., Pengantar Ekonomi Pertanian, Soft cover, Jakarta : Bumi Aksara, 2004.
lablink.or.id/Agro/BawangMrh/bwgm-biologi.htm
luki2blog.wordpress.com/2008/06/05/insektisida-alami-atau-pestisida-nabati/
meetabiet.wordpress.com/2010/6/02/pestisida-nabati/
Prof. Djafarudin, Dasar-Dasar Pengendalian Penyakit Tanaman, soft cover, Jakarta : Bumi Aksara, 2006.
Wisnu Cahyadi, Analisis Dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan, edisi 2, Jakarta : Bumi Aksara, 2008







2 komentar:

  1. boleh tau ga siapa nama penulis n institusinya buat referensi

    BalasHapus
  2. Muhammad Iqbaal Ramadhan dan Abdurrahman Ilham Zakkki

    BalasHapus